Cakupan Imunisasi Rendah, Dinkes Bersama Konsultan Unicef di Jatim Kunjungi Kantor MUI Sampang
MUI SAMPANG, — Upaya meningkatkan cakupan imunisasi di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Menkes) RI, menyusul masih rendahnya jumlah anak yang mendapatkan imunisasi lengkap.
Salah satu hal penting dalam meningkatkan cakupan imunisasi adalah pentingnya kolaborasi dengan berbagai elemen, khususnya dengan tokoh agama, untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap pentingnya imunisasi.
Untuk mengejar ketertinggalan, berbagai strategi terus dilakukan Dinkes, salah satunya dengan mengunjungi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sampang yang berada di Jalan Trunojoyo, Senin (12/10/2026).
“Di Sampang ini dari semua indikator capaian yang sudah ditetapkan oleh Kemenkes masih belum memenuhi target,” kata Kepala Tim (Katim) Surveilans dan Imunisasi (Survim) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sampang, Laily Nafilah.
Menurut dia, peran tokoh agama juga sangat penting dalam mendorong cakupan imunisasi meningkat. Tokoh Agama dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk persepsi publik, terutama di tengah masih adanya keraguan masyarakat terhadap imunisasi.
“Kami hari ini datang ke kantor MUI dalam rangka advokasi untuk mendapatkan dukungan dari tokoh agama di Kabupaten Sampang,” tuturnya.
Laily mengungkap bahwa ada target tahunan yang harus di capai. Namun, di Sampang masih berkisar di angka 50 hingga 60 persen, yang mana angka tersebut masih belum mencapai target yang telah ditetapkan.
“Makanya, kemarin kami sering mengumpulkan teman-teman Bidan Desa, para Kepala Puskesmas. Apa sih yang bisa kita bantu untuk teman-teman agar mampu meningkatkan cakupan itu,” ungkapnya.
Untuk membantu peningkatan cakupan tersebut, kata dia, pihak Kemenkes mendatangkan konsultan dari United Nations Children’s Fund (Unicef) Jatim di wilayah Madura mulai dari Bangkalan, Sumenep termasuk Sampang.
Pendampingan dari Unicef tersebut, lanjut Laily, untuk mencarikan akar permasalahan serta mencari solusi, supaya capaian imunisasi di Sampang ini bisa segera teratasi.
“Jadi, dr Dita Ramadonna ini selaku health officer, Unicef indonesia ditugaskan dari bulan Agustus hingga Desember mendatang untuk mendampingi Dinkes Sampang,” ucapnya.
Imunisasi itu sangat penting dan salah satu bentuk ikhtiar orang tua dalam melindungi anak dari berbagai penyakit menular berbahaya yang berpotensi menyebabkan kecacatan hingga kematian.
“Dalam waktu dekat ini, kami juga akan berusaha berkomunikasi dengan Kemenag serta dengan pesantren-pesantren yang ada di Kabupaten Sampang,” lontarnya.
Ia mengingatkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi dapat meningkatkan risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular seperti campak dan penyakit lain yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
“Kalau cakupan imunisasi itu meningkat, maka balita di Sampang yang masih berisiko terkena penyakit campak, pertusis, difteri dan juga tetanus itu bisa dicegah,” ungkap dia.
Laily menegaskan bahwa ada beberapa jenis penyakit berbahaya sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi, yang hingga kini masih menjadi metode pencegahan paling efektif dan efisien dari sisi biaya.
“Kami berharap, tokoh agama bisa memberikan edukasi dan mendorong masyarakat untuk tidak ragu datang ke fasilitas pelayanan kesehatan dan membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi sesuai jadwal,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum MUI Kabupaten Sampang, KH M Itqan Bushiri menyampaikan terima kasih atas kedatangan Dinas Kesehatan dan Unicef indonesia yang ada di Jawa Timur.
Kedatangan mereka, lanjut Kiai Itqan dalam rangka konsultasi terkait perlindungan kesehatan anak dan ibu yang ada di Kabupaten Sampang.
“Kami atas nama jajaran Dewan Pimpinan MUI Sampang mengucapkan terima kasih atas silaturrahim Dinkes bersama dr Dita Ramadonna selaku health officer Unicef indonesia,” kata Kiai Itqan, secara singkat.

Tinggalkan Balasan